Selamat Datang di Gunungkidul

Mendengar kata Gunungkidul, terbayang dalam benak kita daerah tandus, kering, tidak ada air, batu gamping dan cadas, bukit dan bebatuan tajam, kemarau, pohon mranggas, dan seabreg kondisi miris lainnya. Persis ketika penulis datang pertama kali di Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul,  bulan November 1994, ketika diterjunkan kampus untuk melaksanakan KKN. Bayangan yang menampakkan wajah cemberut dan nelangsa ini merupakan keniscayaan. Hal ini terutama dialami para pendatang yang kebetulan ditugaskan untuk bekerja atau melaksanakan pengabdian di Gunungkidul, tetapi belum pernah sama sekali melihat secara langsung keadaan ini. Apalagi pada saat dahulu belum mengenal teknologi informasi seperti HP, dengan fitur youtube, instagram, flicker, dan lain-lain.

Akan tetapi, lain dulu lain sekarang. Penulis yang berasal dari daerah Banyumas ini sekarang sudah menetap dengan kerasan di kota Pegunungan Seribu ini. Hampir 20 tahun minum air yang dikeluarkan dari perut Gunungkidul, makan nasi tiwul dan sambel bawang, sudah menjadi menu yang segar di kala lapar. Ibaratnya, kalau sudah minum air Gunungkidul, pasti akan krasan menjadi orang Gunungkidul

Satu hal yang menjadi sorotan, bahwa Gunungkidul dengan lokasi daratan yang cukup tinggi dari permukaan air laut, tetapi hampir di setiap permukaan daratan, dibawahnya terdapat aliran sungai bawah tanah. Meskipun jarang sungai di permukaan daratan, tetapi Gunungkidul kaya aair bawah tanah atau sungai bawah tanah. Selama ini orang mengenal Gunungkidul sebagai daerah susah air, tetapi sepanjang tahun, waganya tidak pernah kekurangan air bersih. Memang di daerah tertentu kadang di musim kemarau panjang agak susah air bersih. Ini karena teknologi olah air belum merata di setiap wilayah. Namun masih bisa disuplai dengan cara droping air bersih dengan menggunakan kendaran tangki.

Bagikan Ke Sosial Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *